2015
Januari 2020 dikala cuaca hujan rintik-rintik kecil berbarengan dengan ruangan dipenuhi suara berisik kursi yang digeser, kertas yang dibolak-balik, dan obrolan kecil antar anggota UKM. Hari itu, UKM Olahraga menggelar acara Musyawarah Anggota (Musang)—ajang tahunan yang biasanya diisi dengan laporan kegiatan, pembahasan program kerja, dan pemilihan pengurus baru. Tapi bagi Farih, hari itu tidak biasa.
Karena di ujung kanan ruangan, duduk seseorang yang belum pernah ia kenal sebelumnya. Seorang perempuan dengan jilbab hitam lembut, duduk tenang sambil mencatat di buku kecil. Farih menatap sekilas, lalu buru-buru mengalihkan pandangan. Tapi tak butuh waktu lama, ia menoleh lagi. Dan kali ini, tatapan mereka bertemu. Tak ada kata-kata. Tapi senyum kecil muncul di sudut bibir Nada, dan entah bagaimana, itu cukup untuk membuat dada Farih hangat dalam dinginnya AC ruang sidang. Selepas acara tersebut Farih dan Nada semakin dekat dan menjalani kisah asmara mereka bersama. Menemani salah satu dari mereka menelesaikan studi sampai saling mendapatkan gelar sarjana.
Sejak tatapan pertama di ruang sidang UKM Olahraga Januari 2020, Farih dan Nada telah melewati banyak musim. Hubungan kita bukan kisah sempurna. Tapi justru dari luka-luka kecil itulah cinta mereka tumbuh kuat seperti akar yang perlahan menembus tanah, mencari tempat untuk menetap. Dunia mereka berbeda arah, tapi selalu dipertemukan dalam satu titik: pulang. Karena bagi mereka, pulang tidak selalu berarti rumah... kadang hanya cukup nama di layar ponsel yang selalu mereka tunggu. Dan akhirnya, setelah bertahun-tahun menguji waktu dan jarak, Farih tahu sudah saatnya cinta ini disematkan dalam janji. 18 Januari 2025 kita menentukan untuk bertunangan. Hari itu langit cerah. Angin berhembus pelan membawa aroma bunga yang menghiasi ruangan kecil tempat keluarga besar dua hati ini berkumpul. Tidak mewah, tapi hangat. Dipenuhi tawa, haru, dan doa-doa yang mengalir tulus. Kini, Farih dan Nada bukan lagi dua anak muda yang saling tatap dari jauh. Mereka adalah dua jiwa yang memutuskan untuk tidak lagi sekadar jatuh cinta, tapi bertumbuh dalam cinta yang sama dengan doa yang sama, dan langkah menuju masa depan yang mereka bangun bersama. Dan semuanya… bermula dari tatapan kecil, di Januari 2020.
Februari 2025. Udara pagi terasa lebih lembut dari biasanya. Di ruang tamu rumah keluarga Farih, meja sudah ditata rapi dengan kudapan hangat dan teh melati. Hari itu, keluarga besar Nada datang melakukan kunjungan balik. Sebuah langkah adat yang bukan hanya simbol sopan santun, tapi juga penanda bahwa dua keluarga kini tak hanya saling mengenal, tapi mulai menjadi satu. Obrolan berlangsung hangat, dipenuhi cerita masa kecil, selipan canda, dan sesekali tawa ringan. Lalu, perlahan, percakapan mulai masuk ke inti tanggal pernikahan yaitu 22 Juni 2025. Di balik pintu pelaminan nanti, akan ada kisah yang tak bisa diceritakan ke semua orang tentang badai-badai yang nyaris menggoyahkan,pembaca cukup tahu tentang sabar yang diam-diam menumbuhkan. Dan ketika ijab kabul itu diucapkan, mereka akan tahu: segala yang telah diperjuangkan… tak pernah sia-sia.
2019
Setelah lama tidak bertemu akhirnya kami bertemu kembali di sebuah acara seminar profesional. Kebetulan kami berada di bidang yang sama.
2023
Salah satu momen yang tidak disangka, Syahril melamar saya dengan langsung menyatakan keinginannya kepada ayah saya. Kami pun bersiap dengan petualangan baru.
2024
Momen spesial kami akan dimulai dari titik ini, momen kebahagiaan kami bersama membangun keluarga kecil kami. Semoga Allah SWT memberikan keberkahan untuk pernikahan kami.
Tanpa mengurangi rasa hormat, bagi Bapak/Ibu/Saudara/i yang ingin memberikan tanda kasih untuk kami, dapat melalui: