Chintia
Chintia Martceli Putri, S.Tr.IP., M.Si
Putri dari
Bapak Desti Rulianto
& Ibu Yosita Rozaleni
Temui kami secara virtual untuk menyaksikan acara pernikahan kami melalui tautan di bawah ini:
We fell in love and I knew that we belonged together for a lifetime. I wish I had found you sooner, so I could love you longer. We may each have our imperfection, but we are perfect for each other. You make me believe our next chapter in our life will be even better than the last. I wish you could feel when I look at you and then maybe you would know why I could never want anymore else. You are such a grace for me. You are my best friend, my confident. You are my soulmate and all of me sincerely loves all of you no matter what.
Kisah Adys & Chintia — Tentang Takdir yang Perlahan Mempertemukan
Ada sebuah pepatah yang mengatakan bahwa, “Jika memang sudah ditakdirkan, semesta akan selalu menemukan caranya untuk mempertemukan dua hati, bahkan di waktu dan tempat yang tak terduga.”
Begitulah kira-kira yang terjadi pada Adys dan Chintia.
Awal Pertemuan di Kota Metro
Tahun itu, keduanya mendapat penempatan tugas di Metro, sebuah kota kecil yang tenang, di mana kehidupan berjalan sederhana tapi hangat. Tak ada yang istimewa di hari-hari pertama—hanya rutinitas kerja dan penyesuaian di tempat baru. Tapi tanpa disadari, Metro sedang menyiapkan kisahnya sendiri.
Yang unik, sebenarnya mereka bukan orang asing.
Adys dan Chintia sama-sama berasal dari Bandar Lampung, dan ternyata mereka sudah “saling tahu” bahkan sebelum benar-benar saling mengenal. Teman SD Adys ada yang merupakan teman SMP-nya Chintia. Begitu juga sebaliknya, beberapa teman SMP Adys ternyata teman SMA Chintia.
Lingkar pertemanan mereka saling bersinggungan—seolah semesta sudah lama berusaha mempertemukan mereka, hanya saja waktu belum memperbolehkan.
Sampai akhirnya, di Metro itulah semuanya dimulai.
Sebuah hal kecil—balasan Instagram Story dari Adys kepada Chintia—menjadi awal dari sesuatu yang lebih besar.
Obrolan ringan yang awalnya hanya berupa sapaan, ternyata membuat mereka semakin sering berinteraksi. Dari DM ke WhatsApp, dari pesan singkat menjadi percakapan panjang.
Pertemuan Pertama
Suatu hari, Adys akhirnya mengajak Chintia bertemu.
Pertemuan pertama itu sederhana, tanpa skenario berlebihan—makan bersama di Kauman.
Tak ada lilin, tak ada bunga, hanya dua orang yang saling berbagi cerita di meja makan kecil di sudut kota. Tapi di sanalah semuanya terasa benar.
Percakapan mengalir begitu alami, seolah dua sahabat lama yang akhirnya dipertemukan kembali setelah sekian lama berpisah.
Sejak saat itu, hubungan mereka semakin dekat.
Setiap akhir pekan, Adys selalu menawarkan untuk pulang ke Bandar Lampung bersama. Di perjalanan itulah, banyak cerita tumbuh: tentang mimpi, masa kecil, rencana masa depan, hingga hal-hal kecil.
Bagi orang lain, mungkin hanya perjalanan biasa. Tapi bagi mereka berdua, setiap kilometer adalah kenangan.
Tanggal Berkomitmen – 2 September 2023
Hari itu menjadi salah satu momen yang tak akan pernah mereka lupakan.
2 September 2023, Adys memberanikan diri untuk menyatakan perasaannya.
Tak ada hiasan atau perayaan, hanya kata-kata yang sederhana, tapi keluar dari hati yang sungguh-sungguh.
Adys menatap Chintia dengan sedikit gugup, tapi matanya penuh keyakinan, dia menyatakan keinginan nya untuk bersama dan menjalani hubungan yang serius bukan hanya sekedar berpacaran.
Chintia terdiam sejenak.
Ia tahu, di hadapannya berdiri seseorang yang tulus—seseorang yang ingin berjalan bersamanya, bukan hanya untuk sementara waktu, tapi untuk selamanya.
Dan hari itu, Chintia menerima perasaan itu.
Mereka berdua berkomitmen untuk menjaga hubungan ini dengan serius, untuk saling belajar, saling memahami, dan saling bertumbuh bersama.
Perjalanan Menuju Lamaran
Hari-hari setelah itu terasa semakin hangat.
Mereka mulai melibatkan keluarga, menceritakan niat baik mereka kepada orang tua masing-masing. Tidak mudah—ada rasa gugup, ada perasaan haru, tapi juga ada kebahagiaan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.
Dari setiap percakapan dengan orang tua, dari setiap doa yang dipanjatkan di malam hari, satu hal terasa pasti: bahwa cinta ini bukan sekadar perasaan, melainkan niat untuk membangun kehidupan bersama.
Setelah melalui banyak pembicaraan dan persiapan, akhirnya kedua keluarga sepakat menentukan tanggal lamaran.
Dan hari yang ditunggu pun tiba.
Lamaran – 4 Mei 2025
Tanggal 4 Mei 2025, rumah Chintia terasa berbeda.
Suasananya hangat, penuh tawa dan doa.
Di ruang tamu yang dihiasi bunga dan senyum keluarga, Adys datang bersama keluarganya dengan niat baik dan hati yang bergetar haru.
Saat itu, Adys melamar Chintia—wanita yang selama ini menjadi tempat pulangnya doa-doanya.
Ketika cincin disematkan di jari manis Chintia, air mata bahagia tak bisa ditahan.
Ada rasa syukur yang dalam—karena dua orang yang awalnya dipertemukan oleh kebetulan, kini dipersatukan oleh cinta dan restu keluarga.
Setelah lamaran, mereka melanjutkan momen bahagia dengan sesi prewedding di tempat yang punya makna dalam perjalanan hidup mereka—IPDN dan STTD.
Perjalanan ke Bekasi dan Jatinangor bukan hanya untuk berfoto, tapi juga untuk mengenang perjuangan dan masa muda mereka.
Di setiap lokasi, ada tawa, ada canda, ada kenangan yang akan selalu mereka bawa seumur hidup.
Menunggu Hari Bahagia – 7 Desember 2025
Kedua keluarga besar kemudian duduk bersama dan memutuskan tanggal yang indah:
7 Desember 2025, bertempat di Gedung Balai Krakatau
Tanggal yang kini mereka sebut sebagai hari penyatuan dua hati dan dua keluarga.
Hari itu akan menjadi saksi dari semua perjalanan mereka—dari sebuah balasan Instagram Story, hingga akhirnya ke pelaminan.
Dari percakapan yang sederhana, hingga janji sehidup semati di hadapan keluarga dan Tuhan.
Adys dan Chintia belajar bahwa cinta sejati bukan tentang pertemuan yang cepat, tapi tentang kesabaran untuk menunggu waktu yang tepat.
Bukan tentang siapa yang paling sempurna, tapi siapa yang mau bertahan, berjuang, dan tumbuh bersama dalam setiap keadaan.
Kini, setiap kali mereka menatap kembali ke masa lalu, keduanya tersenyum dalam hati:
"Ternyata semesta tidak pernah salah waktu. Ia hanya menunggu kita siap untuk saling menemukan dengan cara yang paling indah."
Dan begitulah, kisah Adys dan Chintia bukan sekadar cerita cinta. Ia adalah kisah tentang takdir, tentang perjalanan dua jiwa yang akhirnya pulang ke rumah yang sama—satu sama lain
Doa Restu Anda merupakan karunia yang sangat berarti bagi kami. Namun jika memberi adalah ungkapan tanda kasih Anda, Anda dapat memberi kado secara cashless.