Nugi
Nugi Nugraha Septiadi, S.Tr.Pel
Putra dari
Alm.H. M Nur dan Ibu Almh. Hj. Susmiwati
2019
Semua bermula dari sebuah ketidaksengajaan di tahun 2019, di sudut hangat kota Jogja. Dua insan, Wulan dan Nugi, dipertemukan oleh waktu tanpa rencana. Sebuah perkenalan sederhana yang tumbuh menjadi pertemanan, tanpa pernah tahu bahwa semesta sedang menulis awal dari cerita panjang mereka.
2020-2021
Namun, seperti banyak kisah lainnya, waktu membawa mereka berjalan di jalannya masing-masing. Tahun 2020 menjadi jeda—lost contact, tanpa kabar, tanpa pesan. Hingga di tahun 2021, sebuah pesan sederhana dari Nugi kembali membuka pintu komunikasi. Sekadar menanyakan kabar, saling menyapa melalui balasan story, tanpa tuntutan, tanpa kepastian. Mereka tetap dekat, namun dari kejauhan—menjalani hidup masing-masing.
2025
Waktu terus berjalan, hingga akhirnya di bulan Januari 2025, takdir mulai berbicara lebih jelas. Percakapan yang dulu sederhana kini menjadi lebih intens, lebih hangat, dan lebih berarti. Nugi, dengan keyakinan yang diam-diam ia simpan sejak lama, mulai mencoba melangkah lebih jauh. Beberapa kali ia menyampaikan niat untuk bertemu keluarga Wulan, namun jalan itu belum juga terbuka.
Maret 2025
Hingga pada bulan Maret 2025, hati Wulan perlahan luluh. Sebuah izin diberikan, sebuah pintu akhirnya terbuka. Nugi datang, bukan sekadar berkunjung—tetapi membawa keseriusan. Di hadapan keluarga, ia mengutarakan perasaan yang telah ia simpan sejak pandangan pertama di tahun 2019. Perasaan yang tertunda oleh waktu, namun tidak pernah benar-benar hilang.
17 Oktober 2025
Dan dari situlah, semuanya menjadi lebih pasti.
Pada tanggal 17 Oktober 2025, mereka memantapkan hati.
Dengan penuh keyakinan, Nugi menghadirkan keluarganya dari Batam ke Purwokerto,
mengikat janji dalam sebuah lamaran yang hangat dan penuh haru.
30 Mei 2026
Kini, perjalanan itu membawa mereka pada tujuan yang indah.
Pada tanggal 30 Mei 2026, Wulan dan Nugi akan melangkah ke babak baru,
mengikrarkan janji suci dalam balutan pernikahan.
Bukan lagi tentang kebetulan,
melainkan tentang dua hati yang dipertemukan, dipisahkan, dan dipersatukan kembali—
oleh waktu, oleh doa, dan oleh cinta yang tidak pernah benar-benar pergi.
Tanpa mengurangi rasa hormat, bagi Bapak/Ibu/Saudara/i yang ingin memberikan tanda kasih untuk kami, dapat melalui: